Mengenal Femtocell dan Solusi yang ditawarkannya

E-mail Print PDF

Oleh : Hery Dian Septama
Dosen tetap di Teknik Elektro Universitas Lampung.


Saat saya masih SMP awal tahun 2000 masih sangat sedikit pengguna telepon genggam atau handphone. Masih teringat iklan Bill Clinton yang asyik memainkan game snake di handphone Nokia 3310. Handphone sejuta umat katanya, bahkan ini handphone pertama saya yang bertahan cukup lama saat kuliah, bahkan kalau di ejek saya selalu berkilah ini satu-satunya handphone yang bintang iklannya presiden jadi ini handphone terbaik (tentu pada zamannya, padahal memang ga punya uang buat beli baru).

Satu dekade berselang handphone bukan lagi barang aneh, tidak sulit menemukan anak SD asyik bertelepon ria, bahkan beberapa kenalan membekali anaknya yang balita dengan handphone agar bisa di hubungi kalau sedang kangen saat bekerja. Terperangah juga saat di sebuah pasar rakyat handphone di obral habis, di hampar begitu saja seperti jualan sayur dengan harga yang sangat terjangkau.

Baik bukan masalah itu yang ingin saya bahas dalam artikel ini, ilustrasi diatas hanya gambaran betapa ponsel sekarang sudah sangat banyak dan umum di gunakan. Untuk berkomunikasi sebuah handphone akan terhubung ke jaringan penyedia layanan yang disebut provider. Di Indonesia dengan semakin tumbuhnya pengguna handphone semakin menjamur pula provider yang memberikan bermacam kemudahan layanan. Provider akan membangun jaringan yang memberikan ketersediaan jaringan di setiap daerah yang dilingkupinya. Daerah-daerah ini disebut Cell, pada wilayah urban satu cell umumnya dilayani oleh tiga buah BTS (Base Transceiver Station) agar pesawat telepon selular (handset/mobile station) tetap mendapat satu sinyal yang layak dari ketiga sinyal yang diterima. Proses perpindahan dari satu sinyal ke sinyal lain disebut sebagai handover yang dikendalikan oleh Mobile Switching Center (MSC). Dengan kata lain yang lebih tepat, satu BTS biasanya memiliki tiga arah sinyal dan satu koneksi backhaul ke Base Switching Controller (BSC) atau langsung ke MSC. Tentunya di daerah pinggiran belum tentu handset kita mendapat tiga sinyal sekaligus.


Namun ada saatnya handphone tidak mendapatkan sinyal atau kualitas sinyal yang didapat kurang begitu baik. Area-area yang tidak terlingkupi oleh jaringan biasanya disebut sebagai blank spot. Untuk mengatasi ini bisa saja dipasang BTS baru untuk melayani area tersebut. Namun tentu banyak pertimbangan yang ada, investasi pembangunan BTS tentu tidak sedikit dan faktor ruang dan alam yang ada kalanya tidak mungkin untuk dibangun BTS. Pada daerah urban permasalahn yang timbul karena daerah untuk pembangunan BTS menjadi langka dan mahal. Selain itu, dengan keberadaan gedung-gedung bertingkat juga menghalangi penyebaran sinyal dari BTS sehingga semakin banyak blank spot. Untuk mengatasi ini pihak provider biasanya memasang atau membangun microcell atau picocell, sebuah cell berukuran kecil untuk melayani satu area blankspot.

Pada daerah yang memiliki jumlah pengguna yang tinggi penerapan microcell dan picocell masih memberikan bussiness value bagi provider. Sebaliknya pada blankspot yang jauh dari BTS dan dengan pengguna yang relatif sedikit sepertinya provider masih berpikir ulang meskipun untuk membangun micro atau picocell. Disinilah femtocell hadir sebagai gagasan untuk mengatasi hal tersebut (memberikan lingkup layanan lebih besar dengan biaya rendah). Dari situs www.thinkfemtocell.com mendefinisikan “Femtocells are fully featured but very low power mobile phone basestations, connected using standard broadband DSL or Cable service into the mobile operator's network. They offer excellent mobile phone coverage at home for both voice and data, but at lower cost than outdoor service.” Atau kalau secara bebas kita terjemahkan sebagai sebuah Base Station (BS) berdaya rendah dan kaya fitur untuk telepon bergerak yang terhubung menggunakan koneksi DSL Broadband atau layanan kabel ke jaringan operator/provider. Femtocell menawarkan cakupan area yang lebih luas untuk pengguna rumahan dengan biaya rendah.

Nantinya pada balnk spot akan dipasangi femtocell sebagai perangkat fixed-wireless di sebuah rumah di radius terjauh dari BTS, dengan adanya fungsi relay/extender maka pelanggan tersebut menjadi satu femtocell yang juga melayani/mem-broadcast sinyal ke tempat yang lebih jauh. Handphone lain yang tidak mendapat sinyal langsung dari BTS bisa mendapat/menggunakan sinyal yang di-broadcast oleh perangkat femtocell tersebut. Jelas menguntungkan operator dan juga pengguna yang tidak mendapat sinyal atau mendapat sinyal yang kurang bagus karena jauhnya jarak.

Femtocell masih terus dikembangkan oleh para peneliti atau perusahaan dan beberapa sudah di ujicobakan untuk layanan komunikasi suara dan data. Sebagian besar menggunakan 3G dikarenakan memiliki layanan transfer data yang lebih tinggi, sebagian lagi menggunakan 2G dan CDMA yang umum dipakai dan lebih lanjut menggunakan basis yang digadang-gadang sebagai teknologi 4G yakni WiMAX dan LTE (Long Term Evolution). Suatu saat semua akan menikmati kemudahan yang ditawarkan oleh femtocell, diartikel selanjutnya akan dibahas teknis femtocell lebih lanjut.

Sumber : http://www.thinkfemtocell.com dan http://yulian.firdaus.or.id




 

Last Updated ( Sunday, 07 March 2010 22:08 )